TRAGEDI 90 MENIT PSG: TIGA GOL DIANULIR, BLUNDER KIPER, JUARA BERTAHAN UCL TUMBANG DI LISBON

TRAGEDI 90 MENIT PSG: TIGA GOL DIANULIR, BLUNDER KIPER, JUARA BERTAHAN UCL TUMBANG DI LISBON

Juara bertahan UCL tumbang di Lisbon melalui laga yang penuh dengan drama yang berakhir dengan skor 2-1.

Paris Saint-Germain harus menelan malam paling pahit mereka musim ini. Bertandang ke Estádio José Alvalade, Lisbon, juara bertahan Liga Champions itu tumbang secara dramatis dari Sporting CP dengan skor 1-2, Rabu (21/1/2026) dini hari WIB.

Kekalahan ini terasa jauh lebih menyakitkan karena PSG sejatinya hanya membutuhkan satu kemenangan lagi untuk mengunci tiket ke fase gugur Liga Champions. Namun sepak bola kembali menunjukkan wajah paling kejamnya: dominasi tanpa hasil, keputusan VAR yang mematahkan asa, serta satu kesalahan fatal di detik-detik akhir pertandingan.

Sporting merayakan malam bersejarah. PSG pulang dengan kepala tertunduk.

Dominasi Semu dan Kutukan VAR

Les Parisiens tampil superior sejak menit pertama. Pasukan Luis Enrique menguasai lebih dari 70 persen ball possession, membombardir pertahanan tuan rumah tanpa henti.

Statistik berbicara lantang: 28 tembakan dilepaskan PSG, namun hanya satu yang berbuah gol. Selebihnya mentah oleh penyelamatan kiper, mistar, dan—yang paling menyakitkan—keputusan wasit.

Tiga kali PSG bersorak, tiga kali pula harapan itu dipatahkan.

Gol sundulan Warren Zaïre-Emery dianulir karena pelanggaran dalam proses build-up. Nuno Mendes, yang menghadapi mantan klubnya, juga harus gigit jari setelah golnya dibatalkan akibat pelanggaran Ousmane Dembélé terhadap kiper Rui Silva.

Drama VAR mencapai puncaknya saat Dembélé, peraih Ballon d’Or 2025, sukses menanduk bola ke gawang Sporting. Namun bendera offside kembali terangkat. Stadion bergemuruh. Bangku cadangan PSG membeku.

Malam itu, VAR seolah menjadi kutukan bagi raksasa Prancis.

Petaka Menit ke-90

Di tengah gempuran bertubi-tubi, Sporting justru tampil lebih klinis. Mereka menunggu, bertahan, dan memukul di saat paling tepat.

Luis Suárez membuka keunggulan Sporting lewat penyelesaian jarak dekat di babak kedua. PSG sempat bangkit ketika Khvicha Kvaratskhelia menyamakan kedudukan lewat tembakan melengkung indah ke pojok atas gawang—gol yang menghidupkan kembali harapan Les Parisiens.

Namun takdir berkata lain.

Tepat di menit ke-90, petaka itu datang. Lucas Chevalier, kiper PSG, melakukan kesalahan fatal yang tak seharusnya terjadi di level tertinggi Eropa. Tendangan jarak jauh Francisco Trincão gagal ia tangkap dengan sempurna. Bola muntah jatuh tepat di kaki Luis Suárez.

Tanpa ampun, Suárez mencetak gol keduanya. Jose Alvalade meledak. PSG runtuh.

Frustrasi di Ruang Ganti

Kekalahan dramatis ini langsung memukul mental skuad PSG. Kapten tim Marquinhos tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.

“Kekalahan selalu membawa frustrasi. Kami adalah pesaing, kami selalu ingin menang,” ujar Marquinhos usai laga.

Bek asal Brasil itu mengakui timnya tengah berada dalam fase sulit, namun ia menegaskan PSG tak boleh terlarut dalam kegagalan.

“Ini adalah momen sulit ketika kami kalah. Tapi kami punya pengalaman. Kami harus memproses ini bersama dan memikirkan apa yang perlu kami perbaiki,” tegasnya.

Mental juara, menurut Marquinhos, akan diuji justru di saat-saat seperti ini

Detail Kecil yang Menghukum

Nada serupa disampaikan Warren Zaïre-Emery. Wonderkid PSG itu menilai timnya sudah menjalankan rencana permainan dengan baik: pressing tinggi, sirkulasi cepat, dan dominasi total.

Namun sepak bola Eropa tak mengenal kata “nyaris”.

“Selalu frustrasi kalah ketika Anda merasa telah melakukan banyak hal dengan benar,” kata Zaïre-Emery.

“Tapi di pertandingan besar seperti ini, detail kecil yang membuat perbedaan,” tambahnya.

Kekalahan ini membuat PSG turun ke peringkat lima klasemen grup, sekaligus mencatatkan rekor pahit: kekalahan pertama mereka dari tim di luar lima liga top Eropa sejak 2013.

Alarm Bahaya untuk Sang Juara Bertahan

Lisbon menjadi saksi bahwa status juara bertahan tak menjamin apa pun. PSG boleh mendominasi, PSG boleh menekan, namun satu kesalahan dan satu keputusan bisa menghapus segalanya.

Malam itu, sepak bola memilih Sporting.
Dan PSG pulang membawa luka—serta peringatan keras bahwa Liga Champions tak pernah memberi ampun, bahkan bagi sang juara bertahan.

Sumber: Bola.net

Penulis: Marhaeni Putri (Kontributor)

Scroll to Top